Minggu, 24 September 2017

'Deretan kisah mengiris hati, Tentang Kekejaman PKI'


Saya tidak akan bercerita tentang peristiwa bulan Oktober di tahun 1945, ketika kelompok pemuda PKI  membantai pejabat pemerintahan di Kota Tegal, menguliti  serta membunuh sang bupati. Tak cukup di situ, mereka menghinakan keluarganya. Kardinah, adik kandung  RA Kartini yang menikah dengan bupati Tegal periode sebelumnya, termasuk salah satu korban. Pakaian wanita sepuh itu dilucuti, kemudian diarak dengan mengenakan karung goni.

Betapa saat rakyat Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, ketika arek-arek Suroboyo berebut merobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato, lalu bertarung  menghadapi sekutu pada 10 November,  di belahan lain sebulan sebelumnya, sejumlah pejuang turut berdarah-darah  dalam pertempuran lima hari di Semarang, membredeli  tentara Jepang, PKI justru merusak tatanan bangsa di mana-mana. Menggerogoti dari dalam.

Anasir PKI bergerak merebut kekuasaan di Slawi, Serang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Cirebon, dan berbagai wilayah lain.  Menghilangkan nyawa anak bangsa dan tokoh pejuang. Bupati Lebak  dihabisi, tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dieksekusi mati bahkan keberadaan jenazahnya menyisakan misteri. Sultan Langkat dibunuh serta hartanya dijarah. Bahkan Gubernur Suryo, tokoh sentral dari peristiwa di Surabaya juga dibunuh  PKI.

Ketika tokoh PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil menjadi Perdana Menteri di tahun 1948, arus bawah PKI merasa mempunyai kekuatan. Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia, beraliansi komunis. Dan lebih parah lagi dalam Perjanjian Renville, dengan mudah Amir Syarifuddin menyerahkan begitu banyak kekuasaan pada Belanda dan memasung wilayah Indonesia.

Keganasan PKI makin membabi buta.
Saya sebenarnya tidak hendak bercerita tentang peristiwa di Gontor. Ketika setiap pagi menjelang,   satu per satu kyai diabsen dan nama yang disebut  serta-merta disembelih. Atau kisah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang digorok lehernya sebelum dimasukkan ke sebuah sumur bersama korban pembantaian lainnya.

Juga tentang kesaksian Isra dari Surabaya yang ayahnya diseret ke sawah sembari dihajar beramai-ramai hingga jasadnya tidak berbentuk lagi; hancur, habis terbakar, dan dimakan anjing. Sang anak terpaksa memungut potongan tubuh ayahnya satu per satu dan dimasukkan kaleng.

Atau cerita Moch. Amir yang empat sahabatnya sesama aktivis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga ajal menjemput. Atau testimoni Suradi saat para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Yang berhasil keluar tak lantas bebas, melainkan dibacoki. Pun saya sejujurnya tidak ingin mengisahkan kesaksian Mughni yang melihat tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Telinga kakaknya dipotong, lalu dibuang di sumur tua.

Juga tentang Kapolres Ismiadi yang diseret dengan Jeep Wilis sejauh 3 km hingga wafat. Setelah tentara dibunuhi, gantian polisi dilibas.  Kemudian pejabat, ulama, serta para santri.

Pascagerakan komunis berhasil dihentikan di tahun 1948, pada 1965 PKI kembali beraksi.
Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara. Mereka difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan pemerintah berkuasa.  Tak hanya menerima siksaan setiap hari, Buya Hamka  memperoleh ancaman akan disetrum kemaluannya.

Deretan kisah mengiris hati di atas pernah saya baca, bagaimana kekejaman pki pada masa itu miris sekali seperti manusia bagai binatang ternak yg di mutilasi.
apa jadinya kalo sampe bangkit lagi? sungguh membayangkanya saja ngeri 

Tapi, kini mari kita lihat apa yang terjadi jika komunisme berkuasa. Di Uni Soviet, sekitar 7 juta orang tewas dalam Revolusi Bolsevik dipimpin oleh Lenin. Di masa Stalin 20 juta orang  terbunuh untuk memuluskan program komunisme.

Salah satu cara komunisme bertahan adalah,  melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan jika berbeda sebaiknya dibunuh, berapa pun jumlah korban yang dibutuhkan. Di Kamboja, sekitar 2 juta orang atau sepertiga jumlah penduduk dibantai untuk mengukuhkan kekuasaan komunis. Di Cina jumlah korban meninggal dalam revolusi diduga mencapai 80 juta.
Jika komunisme dilatih tidak bisa berbeda pendapat, lalu di mana letak kebebasan?
Dan yang terpenting dari semua itu, jangan berteriak korban. Mengutip Ahmad Mansur Suryanegara, PKI di Indonesia bukan korban, mereka pelaku. Atau istilah Agung Pribadi dalam buku Gara-Gara Indonesia, ini saatnya rekonsiliasi, kita bisa maafkan, tapi jangan lupakan sejarah pembantaian yang dilakukan PKI.
PKI musuh bersama yg harus di hancurkan ideologinya.

terimakasih telah mampir dan membaca blog saya semoga bermanfaat bagi anda pembaca sekalian.

Selasa, 05 September 2017

Eks Bos CIA Allen Dulles Otak Tewasnya JFK dan Jatuhnya Soekarno

Indonesianis asal Australia, Greg Poulgrain menyakini eks Direktur Badan Intelijen Amerika atau CIA, Allen Dulles menjadi otak dari tewasnya Presiden Amerika Serikat ke 35 John F. Kennedy dan jatuhnya Soekarno. Dulles bermaksud menguasai Papua untuk menguras sumber daya alamnya.

Keyakinan itu dituangkan dalam buku hasil riset akademiknya selama 30 tahun yang diberi judul The Incubus of Intervention Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles yang dibahas dalam diskusi di LIPI, Jakarta, Selasa, 5 September 2017.

Baca: Indonesia Disebut Terlibat Program Rahasia CIA

Menurut Greg, Dulles bermaksud menghentikan langkah Kennedy yang ingin menjalin persahabatan dengan Soekarno. Sementara Dulles yang dekat dengan pengusaha raksasa minyak Amerika Serikat, Rockefeller ingin menghancurkan Soekarno dengan tujuan menguasai sumber daya alam yang kaya raya di Papua.

Jauh sebelumnya, seorang geolog asal Belanda, Jean Jaques Dozy, menemukan kandungan emas dan tembaga di kawasan Ertsber dan Grasberg di Papua pada tahun 1936. Hanya saja baru terungkap setelah Freeport McMoran, perusahaan pertambangan Amerika yang mulai melakukan eksplorasi di Papua tahun 1972.

Greg menyusuri keberadaan Dozy dan dalam bukunya, Greg mewawancarainya untuk mencari tahu apa yang terjadi tentang temuannya di Papua saat itu.

JFK, ujar Greg, belum pernah berkunjung ke Papua dan baru sebatas mendengar saja. Barulah tahun 1963 ia menerima undangan dari Soekarno untuk berkunjung ke Indonesia dan membahas tentang program ekonomi untuk membantu rakyat Papua.

Baca: Mantan Kepala CIA di Indonesia Tutup Usia  

"Namun JFK tidak pernah tiba di Papua, karena ia tewas dibunuh," ujar Greg yang mengajar di Universitas Sunshine Coast di Brisbane, Australia.

JFK tewas ditembak saat berkunjung ke Dallas dengan iringan mobil pada hari Jumat, 22 November 1963. Sementara JFK telah dijadwalkan berkunjung ke Indonesia awal tahun 1964 memenuhi undangan Soekarno. Bagi JFK, Soekarno adalah seorang nasionalis, dia tidak percaya proklamator Indonesia ini seorang komunis.

Jalan terbuka bagi Dulles setelah kematian JFK. Freeport pun menancapkan kukunya selama lebih dari 50 tahun di Papua. Dan Soekarno jatuh dari pemerintahannya setahun setelah kematian JFK.

Dalam satu wawancara antara Oliver Stone, sutradara yang membidani Film tentang JFK, seperti diberitakan oleh Daily Mail pada 28 Agustus 2016, mengungkapkan pengakuan seorang mantan anggota tim pengawal JFK bahwa pembunuh presiden muda yang nasionalis itu dilakukan oleh timnya.

Baca: G30S 1965, Seberapa Keterlibatan CIA di Indonesia? 

Mantan pengawal JFK yang menderita kanker itu berujar: "seseorang dari tim kami... telah menembak Presiden."

Nama panggilan penembak itu, ujar mantan pengawal JFK itu adalah "Ron".

Hingga saat ini, Lee Harvey Oswald yang dituding sebagai penembak JFK. Ia dikabarkan menembak JFK dari lantai enam gedung Texas School Book Depository.

Dua hari setelah penembakan JFK, Oswald tewas ditembak oleh seorang pemilik klub malam, namun ada yang mengatakan dia bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Dan hasil riset Poulgrain tentang peran eks bos CIA, Allen Dulles membuka tabir misteri kematian presiden yang diklaim brilian, nasionalis, dan antikolonialisme.
https://prabudewa.blogspot.co.id/googlef3ad5e4a5727d8ea.html